Sabtu, 16 November 2019

Pengantar Teknologi Sistem Cerdas Sistem Pengenalan Ucapan (Speech Recognition)

Universitas Gunadarma
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi



  Pengantar Teknologi Sistem Cerdas
Sistem Pengenalan Ucapan (Speech Recognition)


Disusun Oleh :

Reza Burhanudin      (15117101)
Rizky Gerry P.             (15117345)
Salim Sannigo            (15117461)
Sindi Fernanda           (15117693)
Sonya Natasha           (15117753)
Sutamy Tri W.             (15117810)
Yulisma Salsabila      (16117349)
Zahrah Nindisya        (16117386)
 Gischa Karina HP.      (1B118707)


Kelas: 3KA05
2019/2020


ABSTRAK


       Pengenalan suara atau Speech Recognition adalah proses identifikasi suara berdasarkan kata yang diucapkan dengan melakukan konversi sebuah sinyal akustik, yang ditangkap oleh audio device (perangkat input suara). Speech Recognition juga merupakan sistem yang digunakan untuk mengenali perintah kata dari suara manusia dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu data yang dimengerti oleh komputer. Speech Recognition kini telah diimplementasikan pada banyak aplikasi. Pada makalah ini akan dibahas implementasi Speech Recognition  pada Google Assistant, Siri danWaze.
        Tujuan pembahasan Speech Recognition dalam makalah ini adalah untuk mempelajari cara kerja salah satu bentuk sistem cerdas dalam perangkat yang dipakai sehari-sehari seperti Google Assistant (Android), Siri (iOS) dan Waze.
     Kesimpulan dari makalah ini adalah terdapat sedikit perbedaan antara Voice Recognition dan Speech Recognition. Voice Recognition hanya mengenali identitas pemilik suara sedangkan Speech Recognition mengubah suara menjadi teks. Speech Recognition kini sudah diimplementasikan pada banyak aplikasi, namun yang paling sering dipakai adalah di aplikasi Google Assistant, Siri dan Waze. Speech Recognition membuat penggunaan perangkat elektronik menjadi lebih mudah dan praktis. Namun, di balik banyaknya keunggulan Speech Recognition, terdapat juga beberapa kekurangan yang belum bisa diatasi.





BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


       Speech Recognition adalah proses identifikasi suara berdasarkan kata yang diucapkan dengan melakukan konversi sebuah sinyal akustik, yang ditangkap oleh audio device (perangkat input suara). Speech Recognition juga merupakan sistem yang digunakan untuk mengenali perintah kata dari suara manusia dan kemudian diterjemahkan menjadi suatu data yang dimengerti oleh komputer. Pada saat ini, sistem ini digunakan untuk menggantikan peranan input dari keyboard dan mouse.
        Speech Recognition adalah suatu teknik yang memungkinkan sistem komputer untuk menerima input berupa kata yang diucapkan. Kata-kata tersebut diubah bentuknya menjadi sinyal digital dengan cara mengubah gelombang suara menjadi sekumpulan angka lalu disesuaikan dengan kode-kode tertentu dan dicocokkan dengan suatu pola yang tersimpan dalam suatu perangkat. Hasil dari identifikasi kata yang diucapkan dapat ditampilkan dalam bentuk tulisan atau dapat dibaca oleh perangkat teknologi. 
        Keuntungan dari sistem ini adalah pada kecepatan dan kemudahan dalam penggunaannya. Kata – kata yang ditangkap dan dikenali bisa jadi sebagai hasil akhir, untuk sebuah aplikasi seperti command & control, penginputan data, dan persiapan dokumen. Parameter yang dibandingkan ialah tingkat penekanan suara yang kemudian akan dicocokkan dengan template database yang tersedia. Sedangkan sistem pengenalan suara berdasarkan orang yang berbicara dinamakan speaker recognition. 
     Pada makalah ini hanya akan dibahas mengenai Speech Recognition karena kompleksitas algoritma yang diimplementasikan lebih sederhana daripada speaker recognition. Algoritma yang akan diimplementasikan pada bahasan mengenai proses Speech Recognition ini adalah algoritma FFT (Fast Fourier Transform), yaitu algoritma yang cukup efisien dalam pemrosesan sinyal digital (dalam hal ini suara) dalam bentuk diskrit. Algoritma ini mengimplementasikan algoritma Divide and Conquer untuk pemrosesannya. Konsep utama algoritma ini adalah mengubah sinyal suara yang berbasis waktu menjadi berbasis frekuensi dengan membagi masalah menjadi beberapa rupa masalah yang lebih kecil. Kemudian, setiap rupa masalah diselesaikan dengan cara melakukan pencocokan pola digital suara.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
  1. Apa itu Speech Recognition?
  2. Bagaimanakah cara kerja Speech Recognition?
  3. Bagaimanakah implementasi Speech Recognition pada Google Assistant, Siri dan Waze?

1.3. Tujuan Pembahasan


       Tujuan pembahasan Speech Recognition dalam makalah ini adalah untuk mempelajari cara kerja salah satu bentuk sistem cerdas dalam perangkat yang dipakai sehari-sehari seperti Google Assistant (Android), Siri (iOS) dan Waze.




BAB II
LANDASAN TEORI


2.1 Pengertian Speech Recognition


        Speech Recognition atau yang biasa dikenal dengan Automatic Speech Recognition (ASR) merupakan suatu pengembangan teknik dan sistem yang memungkinkan komputer untuk menerima masukan berupa kata yang diucapkan. Teknologi ini memungkinkan suatu perangkat untuk mengenali dan memahami kata-kata yang diucapkan dengan cara digitalisasi kata dan mencocokkan sinyal digital tersebut dengan suatu pola tertentu yang tersimpan dalam suatu perangkat. Kata-kata yang diucapkan diubah bentuknya menjadi sinyal digital dengan cara mengubah gelombang suara menjadi sekumpulan angka yang kemudian disesuaikan dengan kode-kode tertentu untuk mengidentifikasikan kata-kata tersebut. Hasil dari identifikasi kata yang diucapkan dapat ditampilkan dalam bentuk tulisan atau dapat dibaca oleh perangkat teknologi sebagai sebuah komando untuk melakukan suatu pekerjaan, misalnya penekanan tombol pada telepon genggam yang dilakukan secara otomatis dengan komando suara.
       Berdasarkan kemampuan dalam mengenal kata yang diucapkan, terdapat 5 jenis pengenalan ucapan, yaitu:
  1. Kata-kata yang terisolasi: Proses pengidentifikasian kata yang hanya dapat mengenal kata yang diucapkan jika kata tersebut memiliki jeda waktu pengucapan antar kata.
  2. Kata-kata yang berhubungan: Proses pengidentifikasian kata yang mirip dengan kata-kata terisolasi, namun membutuhkan jeda waktu pengucapan antar kata yang lebih singkat.
  3. Kata-kata yang berkelanjutan: Proses pengidentifikasian kata yang sudah lebih maju karena dapat mengenal kata-kata yang diucapkan secara berkesinambungan dengan jeda waktu yang sangat sedikit atau tanpa jeda waktu. Proses pengenalan suara ini sangat rumit karena membutuhkan metode khusus untuk membedakan kata-kata yang diucapkan tanpa jeda waktu. Pengguna perangkat ini dapat mengucapkan kata-kata secara natural
  4. Kata-kata spontan: Proses pengidentifikasian kata yang dapat mengenal kata-kata yang diucapkan secara spontan tanpa jeda waktu antar kata.
  5. Verifikasi atau identifikasi suara: Proses pengidentifikasian kata yang tidak hanya mampu mengenal kata, namun juga mengidentifikasi siapa yang berbicara.


2.2 Cara Kerja Speech Recognition

Alat pengenal ucapan memiliki empat tahapan dalam prosesnya, yaitu:
  1. Tahap penerimaan masukan: sumber suara diterima melalui media perantara.
  2. Tahap ekstraksi: penyimpanan masukan yang berupa suara dan sekaligus pembuatan basis data sebagai pola. Proses ekstraksi dilakukan berdasarkan metode Model Markov Tersembunyi atau Hidden Markov Model (HMM), yang merupakan model statistik dari sebuah sistem yang diasumsikan oleh Markov sebagai suatu proses dengan parameter yang tidak diketahui.
  3. Tahap pembandingan: Tahap ini merupakan tahap pencocokan data baru dengan data suara (pencocokan tata bahasa) pada pola. Tahap ini dimulai dengan proses konversi sinyal suara digital hasil dari proses ekstraksi ke dalam bentuk spektrum suara yang akan dianalisa dengan membandingkannya dengan pola suara pada basis data. Sebelumnya, data suara masukan dipilah-pilah dan diproses satu per satu berdasarkan urutannya. Pemilihan ini dilakukan agar proses analisis dapat dilakukan secara paralel.
  4. Tahap validasi identitas pengguna: Alat pengenal ucapan yang sudah memiliki sistem verifikasi/identifikasi suara akan melakukan identifikasi orang yang berbicara berdasarkan kata yang diucapkan setelah menerjemahkan suara tersebut menjadi tulisan atau komando.


2.3 Implementasi Speech Recognition pada Google Assistant (Google Now), Siri dan Waze


       Google Assistant adalah asisten virtual yang didukung oleh kecerdasan buatan dan dikembangkan oleh Google yang terutama tersedia di perangkat seluler dan perangkat rumah pintar. Tidak seperti Google Now, Google Assistant dapat terlibat dalam percakapan dua arah. Google Assistant awalnya memulai debutnya pada bulan Mei 2016 sebagai bagian dari aplikasi perpesanan Google Allo, dan pembicara yang diaktifkan suara Google Home. Setelah periode eksklusif pada telefon pintar Pixel dan Pixel XL, lalu mulai dikerahkan di perangkat Android lainnya pada bulan Februari 2017,termasuk telefon pintar pihak ketiga dan Android Wear, dan dirilis sebagai aplikasi yang berdiri sendiri pada operasi iOS sistem pada bulan Mei. Di samping pengumuman perangkat pengembangan perangkat lunak pada bulan April 2017, Google Assistant telah, dan sedang, diperluas untuk mendukung berbagai macam perangkat, termasuk mobil. Aplikasi Google Assistant ini terdapat fitur antarmuka telematika yang merubah suara menjadi tulisan. Google Assistant dalam penggunaanya cukup mudah, kita hanya mengatakan “Ok, Google” maka akan muncul kotak voice search, kita tinggal ucapkan apa yang mau kita cari, maka si Google Assistant yang cerdas ini akan menampilkan hasil yang dia dapatkan dari internet ke layar smartphone.




    Siri adalah asisten pribadi pintar yang membantu Anda menyelesaikan segala sesuatu cukup dengan memerintahkannya. Dengan Siri, Anda dapat menggunakan suara Anda untuk mengirim pesan, menjadwalkan pertemuan, menelepon, dan banyak lagi. Tetapi Siri tidak seperti perangkat lunak pengenalan suara konvensional yang mengharuskan Anda untuk mengingat kata kunci dan menyebutkan perintah tertentu. Siri mengerti cara berbicara Anda seperti biasa dan Siri menanyakan sesuatu jika memerlukan informasi lebih lanjut untuk menyelesaikan tugas. Dengan Siri, kita dapat memberi peritah melalui suara  untuk mengirim pesan, menjadwalkan pertemuan, menelepon, dan banyak lagi. Perintahkan Siri untuk melakukan banyak hal cukup dengan berbicara seperti biasa. Siri  dapat mengerti yang kita ucapkan, mengetahui maksud kita, dan bahkan balas berbicara. Untuk menggunakan Siri tinggal tekan terus tombol Utama pada iphone anda. lalu akan akan terdengar bunyi bip cepat sebanyak dua kali dan muncul tulisan “What can I help you with?” (Apa yang bisa saya bantu?) pada layar. Selanjutnya anda dapat memulai dialog dengan Siri, ketuk ikon mikrofon untuk berbicara lagi dengannya. Jika Anda menggunakan iOS 8, Anda dapat menanyakan sesuatu kepada Siri dengan mengucapkan “Hei Siri”. Anda harus mengaktifkan Hey Siri terlebih dulu dengan membuka Pengaturan > Umum > Siri > Izinkan Hey Siri. Selain itu, Anda harus menyambungkan perangkat iOS ke daya untuk menggunakan Hey Siri. Untuk performa terbaik, minimalkan suara bising di sekeliling dan jauhkan penghalang dari mikrofon.



            Waze adalah sebuah peranti lunak navigasi gratis untuk perangkat telepon genggam dan Tablet PC yang memiliki GPS. Saat ini Waze mendukung perangkat dengan iOS (iPhone/iPad), Android, Windows Mobile, Symbian dan BlackBerry. Berbeda dengan peranti lunak navigasi umumnya, Waze memberikan informasi dan peta berdasarkan masukan komunitas pemakainya. Informasi mengenai kecelakaan, kemacetan jalan, polisi, bahaya berdasarkan kondisi nyata yang dilaporkan para penggunanya. Pengguna Waze yang juga disebut wazers juga bisa melakukan pemutakhiran peta, penambahan tempat dan jalan baru, termasuk mengkondisikan aturan dan alur lalu lintas di setiap jalan dan persimpangannya. Semenjak tahun 2017, Waze menambahkan fitur terbaru yaitu Suara Navigasi. Pengguna cukup berbicara pada aplikasi Waze destinasi perjalanan pengguna, lalu Waze akan menunjukkan rute tercepat. Pengguna akan dipandu menggunakan pemandu Waze juga. Suara pemandu Waze pun bisa diganti menjadi suara artis, atau bahkan suara kita sendiri.







BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
        Terdapat sedikit perbedaan antara Voice Recognition dan Speech Recognition. Voice Recognition hanya mengenali identitas pemilik suara sedangkan Speech Recognition mengubah suara menjadi teks. Speech Recognition kini sudah diimplementasikan pada banyak aplikasi, namun yang paling sering dipakai adalah di aplikasi Google Assistant, Siri dan Waze. Dengan Google Assistant, pengguna bisa melakukan pencarian online, membuka aplikasi tertentu, memasang alarm, mencari rute perjalanan tersingkat, dll. Dengan Siri, pengguna bisa membuka aplikasi, memasang pengingat, bahkan bercakap-cakap. Dengan Waze, pengguna dimudahkan dengan adanya Speech Recognition terutama pengguna yang sedang menyetir karena tidak perlu mengetikkan tujuan, cukup dengan berbicara, Waze bisa mencarikan rute tersingkat menuju destinasi. Speech Recognition membuat penggunaan perangkat elektronik menjadi lebih mudah dan praktis. Namun, tentu saja ada beberapa kekurangan Speech Recognition yaitu sulitnya mengeliminasi suara bising di sekitar kita sehingga bisa membuat perangkat kita gagal memahami ucapan kita. Jumlah kata yang dikenali oleh perangkat juga terbatas. Dan aksen kita juga mempengaruhi karena perangkat kita hanya deprogram untuk mengenali beberapa bahasa dan aksen.

3.2 Saran
      Penulis menyadari bahwa makalah ini banyak sekali kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis akan memperbaiki makalah ini dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan di atas. 



DAFTAR PUSTAKA

Apolloni, Bruno, Harpri (2003). Neural Nets. Springer-Verlag. hlm. 3. ISBN 3540202277.
Baecker, Ronald M, Jonathan Grudin, William A. X. Buxton, Saul Greenberg (1995). Human-Computer Interaction : Toward the Year 2000 (Second Edition). Morgan Kauffman Publishers, Inc. hlm. 546. ISBN 1558602461.
Benesty, Jacob, M. Mohan Sondhi, dan Yiteng Huang (2008). Handbook of Speech Processing. Springer-Verlag. hlm. 6. ISBN 159904840X.
Binus. 2019. https://mti.binus.ac.id/2019/05/08/speech-recognition/
Google Assistant. https://assistant.google.com/
Ilham Efendi. 2015. https://www.it-jurnal.com/apa-itu-siri/
Jelinek, Frederick (1997). Statistical Methods For Speech Recognition. Massachusetts Institute of Technology. hlm. 17. ISBN 0262100665.
Kompas. 2017. https://tekno.kompas.com/read/2017/07/12/15380097/ganti.pemandu.di.waze.dengan.suara.sendiri.begini.caranya
Kusumadewi, Sri. 2003. Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Graha Ilmu: Yogyakarta.
Lawrence Thompson. http://www.streetdirectory.com/travel_guide/139545/technology/key_differences_between_speech_recognition_and_voice_recognition.html
Pitowarno, Endro. 2006. Robotika, Desain, Kontrol, dan Kecerdasan Buatan. Penerbit Andi.
Waibel, Alex dan Kai-Fu Lee (1990). Readings in Speech Recognition. Morgan Kauffman Publishers, Inc. hlm. 1 & 267. ISBN 1558601244.

Senin, 26 Agustus 2019

COBIT dan Implementasinya pada PT. KAI

Hasil gambar untuk kereta api indonesia



Pengertian Cobit

COBIT (Control Objectives for Information and Related Technology) merupakan audit sistem informasi dan dasar pengendalian yang dibuat oleh Information Systems Audit and Control Association (ISACA) dan IT Governance Institute (ITGI) pada tahun 1992.


COBIT Framework adalah standar kontrol yang umum terhadap teknologi informasi, dengan memberikan kerangka kerja dan kontrol terhadap teknologi informasi yang dapat diterima dan diterapkan secara internasional.


COBIT bermanfaat bagi manajemen untuk membantu menyeimbangkan antara resiko dan investasi pengendalian dalam sebuah lingkungan IT yang sering tidak dapat diprediksi. Bagi user, ini menjadi sangat berguna untuk memperoleh keyakinan atas layanan keamanan dan pengendalian IT yang disediakan oleh pihak internal atau pihak ketiga. Sedangkan bagi Auditor untuk mendukung atau memperkuat opini yang dihasilkan dan memberikan saran kepada manajemen atas pengendalian internal yang ada.


Kriteria Informasi Berdasarkan COBIT

Untuk memenuhi tujuan bisnis, informasi perlu memenuhi kriteria tertentu, adapun 7 kriteria informasi yang menjadi perhatian COBIT, yaitu sebagai berikut:
  • Effectiveness (Efektivitas)
    Informasi yang diperoleh harus relevan dan berkaitan dengan proses bisnis, konsisten dapat dipercaya, dan tepat waktu.
  • Effeciency (Efisiensi)
    Penyediaan informasi melalui penggunaan sumber daya (yang paling produktif dan ekonomis) yang optimal.
  • Confidentially (Kerahasiaan)
    Berkaitan dengan proteksi pada informasi penting dari pihak-pihak yang tidak memiliki hak otorisasi/tidak berwenang.
  • Intergrity (Integritas)
    Berkaitan dengan keakuratan dan kelengkapan data/informasi dan tingkat validitas yang sesuai dengan ekspetasi dan nilai bisnis.
  • Availability (Ketersediaan)
    Fokus terhadap ketersediaan data/informasi ketika diperlukan dalam proses bisnis, baik sekarang maupun dimasa yang akan datang. Ini juga terkait dengan pengamanan atas sumber daya yang diperlukan dan terkait.
  • Compliance (Kepatuhan)
    Pemenuhan data/informasi yang sesuai dengan ketentuan hukum, peraturan, dan rencana perjanjian/kontrak untuk proses bisnis.
  • Reliability (Handal)
    Fokus pada pemberian informasi yang tepat bagi manajemen untuk mengoperasikan perusahaan dan pemenuhan kewajiban mereka untuk membuat laporan keuangan.

Implementasi COBIT pada PT. KAI


    Dari gambaran metode COBIT tersebut dapat dilihat langkah pertama yang dapat diambil yaitu :

  1. Perencanaan dan Organisasi
    Untuk PT KAI perencanaan dan organisasi, berikut kelemahan-kelemahan PT KAI:
  •  Rencana strategik TI
    Sudah ada rancangan rencana strategik TI nya tetapi belum dapat diaplikasikan ke seluruh unit bisnis PT KAI
  • Arsitektur informasi
    Belum semua instansi memiliki sistem informasi.
    Sistem informasi yang sudah dikembangkan belum terintegrasi.
  • Arah teknologi
    Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai
  • Organisasi TI dan hubungan
    Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal
  • Investasi TI
    Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh.
    Alokasi anggaran yang terbatas.
    Komunikasi tujuan dan arah manajemen
    Masih lemahnya koordinasi penjadwalan kereta. Hal ini menyebabkan koordinasi lintas kereta kurang efektif.
  • Manage SDM
    Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas.
    Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional maupun manajerial.
    Kesesuaian dengan external requirement
    Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan masyarakat (globalisasi).
    - Penilaian resiko
    Belum adanya manajemen resiko dan manajemen kualitas yang baku dalam pengembangan sistem pendukung perkeretaapian.
    - Manajemen proyek
    Manajemen proyek telah dilakukan namun belum optimal.
    Desain sistem tidak didukung data yang akurat dan lemahnya koordinasi.p
    - Manajemen kualitas
    Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan
    terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.
        
       2. Akuisisi dan Implementasi
           Ditinjau dari tahapan akuisisi dan implementasi maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya  telah terdapat beberapa otomatisasI layanan dan pengembangan sistem informasi. Namun  pengembangan sistem tersebut masih sporadis di beberapa instansi dan belum terintegrasi.  Demikian pula dengan manajemen waktu dan perubahan, roadmap yang disusun baru  mengakomodasi perubahan jangka pendek (short time investment) dan belum mencakup  jangka menengah dan jangka panjang (long time investment).
           Beberapa kelemahan yang ditemukan diantaranya :
           - Identifikasi solusi otomatisasi
           Belum semua sistem diotomatisasi.
           Sebagian besar layanan masih menggunakan sistem manual.
           Sistem yang sudah dikembangkan belum terintegrasi.
           - Pemeliharaan aplikasi perangkat lunak
          Tidak terdapat alokasi anggaran yang memadai untuk pemeliharaan.
          Yang sering terjadi justru penggunaan perangkat lunak tidak optimal
          Pemeliharaan infrastruktur teknologi
          Tidak didukung SDM TI yang handal dalam pemeliharaan infrastruktur.
          Alokasi anggaran pemeliharaan masih terbatas.
          Jangka waktu pemakaian yang tidak jelas.
          - Mengembangkan dan memelihara prosedur
          Aturan yang berubah-ubah menjadikan prosedur turut berubah pula.
          Tidak ada korelasi dan koherensi antar setiap perubahan sehingga menyulitkan
          pengembangan dan pemeliharaan prosedur.
         - Instalasi system
         Instalasi sistem masih dalam tahap pengembangan ke depan dan menyeluruh.
         - Mengatur perubahan
         Masih belum ada persiapan dari pihak PT KAI terhadap perubahan. Perubahan ditentukan dari             luar, tidak direncanakan dari dalam.
         Inisiatif internal masih rendah (konsekuensi birokrasi yang lambat).


     3. Pelaksanaan dan Dukungan
         Pengembangan IT pada PT KAI dilihat dari pelaksanaan dan dukungan bagi keberlanjutannya,           ternyata masih dapat ditemukan beberapa kelemahan sebagai berikut:
         - Mengidentifikasi dan mengatur service levels
         Instalasi sistem yang tidak seragam dan belum terintegrasi.
         - Mengatur layanan pihak ke-3
         Belum semua instansi membangun system layanan online bagi masyarakat yang
         dilayaninya. PT KAI pelayanannya hanya melalui telpon.
         - Mengatur kinerja dan kapasitas
         Tidak terdapat standarisasi antara kapasitas dan aktualitas, potensi dan hasil kerja.
         - Memastikan layanan berkelanjutan
         Roadmap yang dibuat hanya dalam jangka waktu pendek (short time), belum terdapat
         roadmap jangka menengah dan jangka panjang (long time).
         Roadmap jangka pendek tidak intensif, dan tidak terinci, sangat rentan terhadap
         penyimpangan.
         Acuan yang digunakan masih sangat umum sehingga sulit dilaksanakan.
        - Memastikan keamanan system
        Belum adanya sistem yang menjamin keamanan data serta pengelolaan data yang belum
        optimal. Tanggung jawab terhadap keamanan data dan transaksi yang tidak jelas, prosedur
        dan mekanisme pengamanan data yang minimalis dan sangat rentan terhadap serangan.
        Tingkat vulnerability sistem masih relatif tinggi.
        - Identifikasi dan alokasi biaya/sumber daya
        Alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran, sangat terbatas.
        Alokasi anggaran pada masing-masing tingkat instansi sangat beragam
       - Edukasi dan pelatihan pengguna
       Tidak adanya regenersi SDM sehingga SDM yang handal masih sangat terbatas.
       Kalaupun ada SDM yang cukup terampil, namun penempatan dan psosisinya tidak tepat
       sehingga tidak termanfaatkan kemampuannya secara optimal serta rendahnya penghargaan
       terhadap kinerja sumber daya manusia yang terampil.
       Meskipun sudah ada usaha untuk mensosialisasikan rencana-rencana , Sosialisasi dari
       implementasi masih belum optimal sehingga nilai manfaat dari perkembangan masih
       belum dapat dirasakan.
      - Mengatur konfigurasi
      Prosentase penggunaan teknologi informasi di masing-masing instansi yang masih kurang
      serta tingkat utilitas dari implementasi belum optimal.
      - Mengatur masalah dan kejadian luar biasa
      ID member masih dalam tahap perencanaan.
      Belum terdapat rancangan dalam penanganan kejadian luar biasa termasuk pertanggungjawaban.
      - Mengatur data
      Data antara instansi belum terintegrasi.
      Sudah menggunakan data storage yang memadai.
      Manajemen back up data menggunakan komputerisasi.
      - Mengatur fasilitas
      Perencanaan fasilitas dan pemeliharaan sudah dilaksanakan, namun masih belum optimal begitu  juga pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas.
     - Mengatur operasional
     Tidak didukung dengan sistem yang jelas.
     Peraturan yang ada masih bersifat umum dan multi tafsir.

Kesimpulan
Metode COBIT perlu diterapkan pada PT. KAI. Hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode COBIT diharapkan kinerja PT. KAI dapat lebih baik dan terorganisasi sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kontribusi bagi pengguna jasa kereta api, pemegang saham dan pemerintah.

BRM dan SLM


Dalam manajemen bisnis terdapat prinsip – prinsip umum hubungan manajemen bisnis, salah satunya adalah prinsip manajemen hubungan bisnis dan manajemen tingkat layanan.

Manajemen hubungan bisnis atau disebut Business Relationship Management (BRM) adalah pendekatan formal untuk memahami, mendefinisikan, dan mendukung kegiatan antar-bisnis yang terkait dengan jaringan bisnis. Manajemen hubungan bisnis terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan perilaku (atau kompetensi) yang menumbuhkan hubungan yang produktif antara organisasi layanan (contohnya Sumber Daya Manusia, teknologi informasi, departemen keuangan, atau penyedia eksternal) dan mitra bisnis mereka.

Manajemen tingkat layanan atau disebut Service Level Management (SLM) adalah manajemen yang bertujuan untuk menegosiasikan Perjanjian Tingkat Layanan dengan pelanggan dan untuk merancang layanan sesuai dengan target tingkat layanan yang disepakati. SLM ini termasuk ke dalam proses ITIL dimana proses ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa semua Perjanjian Tingkat Operasional dan Kontrak yang Mendasari sudah tepat, dan untuk memantau dan melaporkan tingkat layanan.

Melihat definisi tersebut terdapat perbedaan diantara keduanya, Perbedaan tersebut terletak pada fokus yang dituju oleh BRM dan SLM. Fokus SLM adalah dalam menempa kesepakatan dengan pelanggan pada tingkat layanan yang akan diberikan untuk layanan tertentu dan, dengan memastikan tingkat layanan ini terpenuhi pada pencapaian tingkat kepuasan pelanggan yang dapat diterima. Sedangkan Fokus BRM adalah pada desain dan penyediaan layanan yang dapat menambahkan nilai nyata kepada pelanggan dengan biaya yang masuk akal, baik dalam hubungan dengan nilai yang diberikan layanan dan biaya layanan serupa pesaing.




Kesimpulannya SLM jauh lebih berorientasi operasi nasional dan bekerja untuk mencapai tingkat layanan yang disepakati, sedangkan BRM bersifat strategis (utilitas dan garansi) yang berfokus pada kepuasan pelanggan.

Senin, 24 Juni 2019

Universitas Gunadarma
Fakultas Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi



Manajemen Layanan Sistem Informasi
Framework ITSM: ITIL dan COBIT

Disusun Oleh :

Ega Yulia                 (10117226)
Dwy Stiaji                (11117836)
Fiqri Nurbayhaqi     (12117368)
M. Sultan Akbar      (13117402)
Sutamy Tri W.         (15117810)
Sonya Natasha         (15117753)
Zahrah Nindisya       (16117386)

Kelas : 2KA05


2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan rahmat-Nyalah peneliti akhirnya bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Framework ITSM: ITIL dan COBIT” ini dengan baik dan tepat waktu. Tidak lupa peneliti menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Manajemen Layanan Sistem Informasi, Ibu Agustine Hana Masitoh, yang telah memberikan bimbingan serta masukan yang bermanfaat dalam proses penyusunan makalah ini. Rasa terima kasih juga hendak peneliti ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan kontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga makalah ini bisa selesai pada waktu yang telah ditentukan.

Meskipun peneliti sudah mengumpulkan banyak referensi untuk menunjang penyusunan makalah ini, namun peneliti menyadari bahwa di dalam makalah yang telah peneliti susun ini masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan. Peneliti mengharapkan saran serta masukan dari para pembaca demi tersusunnya makalah yang lebih baik lagi. Akhir kata, peneliti berharap agar makalah ini bisa membantu mahasiswa dalam mengenali framework-framework ITSM.



DAFTAR ISI

Cover
Daftar Isi i
Kata Pengantar…………………………………………………………………………………….ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………………...1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………………………..2
1.3 Tujuan Penulisan………………………………………………………………………………2
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………………………….3
BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………….7
3.1 Kesimpulan…………..………………………………………………………………………..7
3.2 Saran…………………………………………………………………………………………..7
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………….8




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
ITSM (Information Technology Service Management, Manajemen Layanan Teknologi Informasi) adalah suatu metode pengelolaan sistem teknologi informasi (TI) yang secara filosofis terpusat pada perspektif konsumen layanan TI terhadap bisnis perusahaan. ITSM merupakan kebalikan dari pendekatan manajemen TI dan interaksi bisnis yang terpusat pada teknologi. Istilah ITSM tidak berasal dari suatu organisasi, pengarang, atau pemasok tertentu dan awal penggunaan frasa inipun tidak jelas kapan dimulainya.

ITSM umumnya menangani masalah operasional manajemen teknologi informasi (kadang disebut operations architecture, arsitektur operasi) dan bukan pada pengembangan teknologinya sendiri. Contohnya, proses pembuatan perangkat lunak komputer untuk dijual bukanlah fokus dari disiplin ini, melainkan sistem komputer yang digunakan oleh bagian pemasaran dan pengembangan bisnis di perusahaan perangkat lunak-lah yang merupakan fokus perhatiannya. Banyak pula perusahaan non-teknologi, seperti pada industri keuangan, ritel, dan pariwisata, yang memiliki sistem TI yang berperan penting, walaupun tidak terpapar langsung kepada konsumennya.

Sesuai dengan fungsi ini, ITSM sering dianggap sebagai analogi disiplin ERP pada TI, walaupun sejarahnya yang berakar pada operasi TI dapat membatasi penerapannya pada aktivitas utama TI lainnya seperti manajemen portfolio TI dan rekayasa perangkat lunak.



1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ITIL?
2.      Apa yang dimaksud dengan COBIT?
3.      Apa saja perbedaan ITIL dan COBIT?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membantu mahasiswa mengenali framework-framework ITSM terutama ITIL dan COBIT serta mengidentifikasi perbedaan kedua framework tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian ITIL
ITIL (Information Technology Infrastructure Library). ITIL yang dikeluarkan oleh OGC (Office of Government Commerce), adalah seperangkat framework untuk mengelola IT Service Level. Meskipun dalam banyak hal ITIL sangat mirip dengan COBIT, namun perbedaan mendasarnya adalah Cobit menetapkan standar dengan melihat berdasarkan proses dan risiko, dan di sisi lain, ITIL menetapkan standar dari layanan TI dasar.

Pada 30 Juni 2007, OGC menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:
·         Service Strategy
Strategi Layanan berhubungan dengan analisis strategis, perencanaan, penentuan posisi, dan implementasi yang berkaitan dengan model layanan, strategi, dan tujuan TI. Ini memberikan panduan tentang memanfaatkan kemampuan manajemen layanan untuk secara efektif memberikan nilai kepada pelanggan dan menggambarkan nilai bagi penyedia layanan.

·         Service Design
Berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan seperti server, storage, dan lainnya.
Ruang lingkup Service Design tidak hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinuitas layanan maupun kinerja dari layanan.



·         Service Transition
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang dirubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.

·         Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup  kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Operartion:
Ø  Event Management
Ø  Incident Management
Ø  Problem Management
Ø  Request Fulfillment
Ø  Access Management

·         Continual Service Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas.
Penerapan ini merupakan pendahuluan dari Countinual Service Inprovement (CSI) berdasarkan ISO/IEC 20000, yang merupakan:



Ø  Mencari tools yang dibutuhkan untuk mendukung dan memproses dokumen
Ø  Mengidentifikasikan kewajiban dan wewenang dari manajemen
Ø  Mengindetifikasikan proses aktivitas yang membutuhkan pengenalan
Ø  Mengindetifikasikan komparisasi tampilan berdasarkan CSI serta lifecycle yang lainnya
Ø  Mengindetifikasikan pemeriksaan yang dibutuhkan dalam melakukan eksekusi pada tahapan pemeriksaan

Pengertian COBIT
COBIT adalah singkatan dari Control Objective Over Information and Related Technology. Cobit yang dikeluarkan oleh ISACA (Information System Control Standard) yang merupakan organisasi non-profit untuk IT Governance. Fungsi utama COBIT adalah membantu perusahaan dalam memetakan proses TI mereka ke standar praktik terbaik dari ISACA. COBIT biasanya dipilih oleh perusahaan yang melakukan audit sistem informasi, baik yang berkaitan dengan audit keuangan atau audit TI secara umum.
Domain dan Control Objectives dari COBIT antara lain:
·         PO - Plan and Organize – (PO1 - PO10)
Domain ini mencakup strategi dan taktik, dan menyangkut identifikasi cara TI dapat berkontribusi terbaik untuk pencapaian tujuan bisnis. Realisasi visi strategis perlu direncanakan, dikomunikasikan dan dikelola untuk perspektif yang berbeda. Sistem organisasi yang tepat serta infrastruktur teknologi harus diberlakukan.
·         AI – Acquire and Implement – (AI1 - AI7)
Untuk mewujudkan strategi TI, solusi TI perlu diidentifikasi, dikembangkan atau diperoleh, serta diimplementasikan dan diintegrasikan ke dalam proses bisnis.



·         DS – Delivery and Support – (DS1 - DS13)
Domain ini berkaitan dengan pengiriman yang sebenarnya dari layanan yang dibutuhkan, yang meliputi pengiriman layanan, manajemen keamanan dan kontinuitas, dukungan layanan untuk pengguna, dan pengelolaan data dan fasilitas operasional.
·         ME – Monitor and Evaluate – (ME1 - ME4)
Semua proses TI harus secara teratur dinilai dari waktu ke waktu untuk kualitas dan kepatuhan mereka dengan persyaratan kontrol. Domain ini membahas manajemen kinerja, pemantauan pengendalian internal, kepatuhan terhadap peraturan dan tata kelola.

Perbedaan ITIL dan COBIT
ITIL
COBIT
ITIL (Information Technology Infrastructure Library) dikeluarkan oleh OGC (Office of Government Commerce) untuk mengelola IT Service Level

Fungsi utamanya untuk memetakan proses IT



Komponennya ada 5 (service strategy, service design, service transition, service operation, continual service improvement)





COBIT (Control Objective Over Information and Related Technology) dikeluarkan oleh ISACA (Information System Control Standard)


Fungsi utama COBIT adalah untuk membantu perusahaan dalam memetakan proses TI mereka ke standar praktik terbaik dari ISACA.

Domain dan control objectives ada 5 (plan and organize, acquire and implementation, delivery and support, monitor and evaluation)




BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebagaimana kita ketahui COBIT (Control Objective of Information and related Technology) merupakan sebuah pedoman bagi pengelolaan IT termasuk input, proses, output, serta process control yang terbagi kedalam 4 obyektif dan 34 area kunci. Masing-masing obyektif tersebut adalah:Planing & Organization (PO),Acquisition & Implementation (AI), Delivery & Support (DS) dan Monitoring.
Sedangkan ITIL merupakan sebuah kerangka pengelolaan layanan IT yang terbagi kedalam proses dan fungsi. Dua area/modul dalam ITIL, yaitu Service Support dan Delivery kemudian menjadi CORE dalam ITIL versi 2, yang kemudian kita kenal dengan IT Service Management.
Apabila dilihat dari posisi kedua pendekatan tersebut, maka dapat kita lihat hubungan secara langsung diantara Delivery & Support (COBIT) dan ITSM. Dimana COBIT mengatur masalah obyektif yang harus dicapai oleh sebuah organisasi dalam memberikan layanan IT, sedangkan ITIL merupakan best practice cara-cara pengelolaan IT untuk mencapai obyektif organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa COBIT dan ITIL merupakan dua pendekatan dalam IT Governance dan tata kelola layanan teknologi informasi yang saling melengkapi. Apabila dibedah lebih jauh, relavansi ITIL tidak hanya berhenti di area Delivery& Support, tetapi bisa kita petakan ke area COBIT lainnya.
3.2 Saran
Bagi anda yang sudah menggunakan COBIT sebagai standar kontrol terhadap pengelolaan IT, anda dapat juga mengimplementasikan ITIL dalam upaya meningkatkan tingkat kematangan IT perusahaan anda (Maturity Level). Bagi yang belum mengimplementasikannya dapat mengkombinasikan kedua pendekatan ini karena hubungannya satu dengan yang lain adalah saling melengkapi.


DAFTAR PUSTAKA

Amanda, Sarah. 2016. ITIL & COBIT. http://sarahamanda12.blogspot.com/2016/03/itil-cobit.html (21 Mei 2019)
ITG.ID. 2015. Pengertian ITIL Bagian I. https://itgid.org/pengertian-itil/ (21 Mei 2019)
Mulyana, Dede. 2009. Posisi ITIL & COBIT. https://itilindo.wordpress.com/2009/03/17/posisi-itil-dan-cobit/ (21 Mei 2019)
Wikipedia. 2017. ITSM. https://id.wikipedia.org/wiki/ITSM (21 Mei 2019)

http://studentsite.gunadarma.ac.id/index.php/tugas/indexhttp://studentsite.gunadarma.ac.id/index.php/tugas/index oh

Tugas Bukti Audit

  UNIVERSITAS GUNADARMA FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKHNOLOGI INFORMASI "TUGAS BUKTI AUDIT" Disusun Oleh :  Nama : Zahrah Nindisya...